Farida Nurhan, seorang food vlogger yang sukses secara finansial berkat kiprahnya dalam dunia konten online, kini menjadi sorotan netizen atas kontroversi terkait keputusannya melakukan operasi plastik pada hidungnya. Meskipun sukses secara materi, beberapa netizen dan pengikutnya menyuarakan kekecewaan karena mereka merasa Farida kurang berperan serta dalam kegiatan amal.
Kritik terhadap Farida muncul setelah beberapa pengguna media sosial menilai bahwa fokusnya pada operasi plastik menunjukkan prioritas diri yang tinggi daripada memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, seperti fakir miskin atau rakyat Palestina. Sebuah komentar blak-blakan di akun Instagram Farida Nurhan bahkan menggurui agar Farida lebih memperhatikan mereka yang benar-benar membutuhkan uluran tangan.
Namun, Farida Nurhan merespons kritik ini dengan sikap bijak. Melalui unggahan di media sosial, dia menegaskan bahwa sebagian besar pendapatan yang dia peroleh dari kerja kerasnya telah lama disalurkan untuk membantu orang-orang di sekitarnya, termasuk janda-janda tua, yatim piatu, serta kegiatan pengajian di Lumajang dan Probolinggo. Meskipun jarang mengabadikannya dalam konten, dia menyebut bahwa amalnya telah berlangsung lebih dari 10 tahun.
Farida juga mempertegas bahwa operasi plastik yang dia lakukan bukan merupakan tanda ketidakbersyukuran atau pemborosan uang. Baginya, memamerkan kegiatan amal bertentangan dengan prinsip hati nuraninya. Meski begitu, ia berharap persepsi bahwa tindakan operasi plastik menunjukkan kurangnya rasa syukur bisa berkurang di kalangan netizen.
Mengimbangi responsnya terhadap kritik, Farida Nurhan juga membagikan beberapa video yang menunjukkan penerima sumbangan dari dirinya di berbagai daerah. Dia menekankan bahwa dia adalah sosok yang bertanggung jawab, memastikan bahwa sebelum memikirkan kebutuhan pribadinya, tanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungannya sudah terpenuhi.
Kontroversi ini menyoroti pandangan berbeda mengenai bagaimana seorang publik figur memanfaatkan pengaruhnya dalam urusan amal, dan bagaimana media sosial bisa menjadi platform untuk berbagi kebaikan. Farida Nurhan, dalam responsnya, mencoba menjelaskan bahwa bantuan dan amal tidak selalu terpampang secara terang-terangan dalam konten yang dia buat, namun telah menjadi bagian dari aktivitasnya selama bertahun-tahun.

