Mansur, Pengelola Curug Bugbrug : Menjaga Keindahan Alam Hingga Menghadapi Musim Kemarau

    Kawasan Curug Bugbrug di Cisarua, Bandung Barat, tidak hanya menawarkan keindahan alamnya yang memesona, tetapi juga cerita pengelola setianya, Mansur. Sejak masa remaja, Mansur telah mengelola dan merawat Curug Bugbrug, menjadikannya destinasi wisata yang istimewa.

    Pada kunjungan kami, Mansur ditemui duduk santai, memperhatikan pengunjung yang menikmati keindahan curug. Ramah, ia menyambut kami dan menawarkan minuman hangat dari warungnya. Seiring berjalannya waktu, percakapan pun dimulai.

    Curug Bugbrug, awalnya hanyalah lahan perkebunan selada air milik warga. Melihat minat pengunjung yang datang menikmati keindahan alam, Mansur, yang saat itu masih remaja pada tahun 98-an, memutuskan untuk memanfaatkan potensi tersebut.

    Kawasan Cisarua memang dikenal dengan potensi alamnya yang melimpah. Gunung Burangrang yang megah, tanah subur, hutan lebat, perkebunan karet, perkebunan teh, dan wisata air terjun menjadikan Cisarua sebagai destinasi yang menarik.

    Curug Bugbrug sendiri terletak di lembah yang memisahkan Cisarua dengan Parongpong, cukup tersembunyi dan belum begitu dikenal dibandingkan dengan curug lain di sekitar Cisarua.

    Meski sempat ditutup selama lima tahun, Curug Bugbrug mulai dioperasikan kembali oleh Mansur dan timnya pada pertengahan tahun 2020. Pada tahun 2001, curug ini pertama kali diresmikan sebagai wisata alam oleh desa setempat.

    Upaya perawatan dilakukan dengan memangkas tanaman liar, membangun fasilitas untuk pengunjung seperti gazebo kayu, kursi di berbagai titik kawasan, kamar mandi bersih, musala, dan warung sederhana yang menyediakan berbagai makanan.

    Keberhasilan Curug Bugbrug semakin dikenal tak lepas dari peran media sosial. Pengunjung datang, mendokumentasikan keindahan curug, dan membagikannya di platform online, memicu minat pengunjung lainnya. Bahkan, beberapa orang datang secara khusus untuk membuat konten dan mempromosikan tempat ini.

    Namun, tantangan muncul saat musim kemarau beberapa bulan lalu. Debit air sungai yang menurun drastis bahkan hampir mengering memberikan dampak pada daya tarik Curug Bugbrug. Pengunjung membatalkan kunjungan setelah melihat kondisi air yang sangat kecil, mengurangi jumlah wisatawan hingga lima puluh persen selama dua bulan terakhir.

    Pengelolaan Curug Bugbrug juga memperhatikan dampaknya pada pertanian warga sekitar yang mengandalkan aliran sungai untuk penghidupan sehari-hari.

    Mansur menyatakan bahwa musim kemarau berpengaruh signifikan terhadap daya tarik wisatawan, namun ia optimis bahwa curah hujan yang kembali normal akan membantu memulihkan debit air dalam 1-2 bulan ke depan.

    Jalur akses ke Curug Bugbrug dapat melalui beberapa rute, seperti Jalur Komando, Jalan Kampung Ciwangun Indah Camp (CIC), atau gerbang dekat dengan jalur masuk CIC pada Jalan Kolonel Matsuri. Tiket masuk Rp 10.000 per orang, dengan opsi camping seharga Rp 20.000. Pengelola juga memberikan kemudahan akses melalui gerbang yang biasanya dilarang masuk, dengan catatan tidak disarankan membawa kendaraan pribadi karena minimnya lahan parkir.

    "Curug Bugbrug saya tahu dari postingan di Instagram. Meski kering sekarang karena kemarau, tetap bagus dan asri," ujar Rina, seorang wisatawan dari Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

    Curug Bugbrug menawarkan pemandangan indah dengan air terjun setinggi 25 meter. Kini, pengelola dan pengunjung berharap agar alam ini terus dijaga kelestariannya, memberikan pengalaman wisata yang menarik bagi semua yang datang menikmati keindahan Curug Bugbrug.

LihatTutupKomentar