Bunga Citra Lestari : Memetik Kebijaksanaan dari Lika-Liku Kehidupan

Bunga Citra Lestari (BCL), seorang selebriti ternama Indonesia, telah menjalani perjalanan hidup yang penuh lika-liku, dari kariernya yang gemilang hingga cobaan berat kehilangan suami tercintanya, Ashraf Sinclair. Kini, di usia 40 tahun, BCL mengambil langkah berani dengan menikah untuk kedua kalinya, mengundang reaksi campuran dari publik.

Pernikahan BCL dengan Tiko Aryawardhana, meskipun mengundang dukungan sebagian, juga menarik cibiran dari sebagian publik. Namun, BCL, atau yang akrab disapa Unge, telah lama berhadapan dengan pandangan negatif dan telah belajar menghadapinya dengan bijaksana.

Dalam sebuah wawancara dengan Iwet Ramadhan di kanal YouTube Her World Indonesia, BCL membuka diri tentang cara dia menghadapi orang yang tidak menyukainya. Menariknya, BCL tidak langsung menyalahkan orang lain atau merasa tersinggung. Sebaliknya, dia melakukan introspeksi diri, mencoba memahami apakah ada alasan yang mendasari ketidaksetujuan tersebut.

"Kita mesti melihat diri kita juga, kan kita enggak bisa langsung salahin pandangan orang melihat kita bagaimana. Misalnya ada orang enggak suka, aku enggak kayak, 'gila belagu banget dia enggak suka sama gue,'" ungkapnya.

Dia menambahkan bahwa dia tidak memaksakan diri untuk disenangi oleh semua orang karena menyadari bahwa tidak semua orang akan memiliki pandangan yang sama terhadapnya. Pendekatan ini memperlihatkan kedewasaan dan kebijaksanaan BCL dalam menghadapi kritik dan pandangan negatif.

BCL juga berbagi pengalamannya menghadapi tanggapan negatif di media sosial. Meskipun kadang-kadang merasa kesal dan terpikirkan oleh pandangan negatif tersebut, BCL memahami bahwa tidak mungkin menyenangkan semua orang. Dia mencari dukungan dari lingkaran terdekatnya, terutama mendiang suami Dewi Lestari, Reza Gunawan, yang dikenal sebagai pakar penyembuhan holistik. Reza memberikan pandangan bahwa sementara kita tidak dapat mengontrol reaksi orang terhadap pilihan hidup kita, kita dapat mengontrol reaksi kita terhadap reaksi mereka.

"Tapi kita bisa kontrol reaksi kita terhadap reaksi orang itu. Jadi kalau kamu mau terpengaruh dengan omongan orang, ya konsekuensinya jadi stres, depresi," ujarnya.

BCL menunjukkan bahwa dia telah belajar untuk tidak terlalu memikirkan pandangan negatif dan lebih fokus pada kebahagiaan dan kebersamaan dengan keluarganya. Meskipun masih mendapatkan cibiran, kebahagiaan BCL dan Tiko Aryawardhana terlihat jelas saat berbulan madu di Bali, menikmati momen indah bersama keluarga besar. Ini membuktikan bahwa BCL telah menemukan keseimbangan dan kedamaian dalam menghadapi lika-liku kehidupannya, memetik kebijaksanaan dari setiap perjalanan yang dilaluinya.

LihatTutupKomentar