Ratusan Siswa SDN Citamiang Cianjur Belajar di Tenda Darurat Setahun Pasca Gempa : Proses Pembangunan Belum Tuntas

    Ratusan siswa di SDN Citamiang Kabupaten Cianjur masih belajar di tenda darurat setahun setelah bangunan sekolah mereka rusak berat akibat gempa bumi pada tahun 2022. Meskipun waktu telah berlalu, pembangunan sekolah masih terhambat, menyebabkan siswa harus bersekolah dalam kondisi yang kurang nyaman.

    Meski tampak kokoh dari luar, bangunan SDN Citamiang mengalami kerusakan yang signifikan di dalamnya. Tembok dan atap kelas rusak parah, membuat kegiatan belajar mengajar dilakukan di tenda bantuan dari Kemensos dan PMI. Meja serta kursi kayu yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan menjadi sarana belajar para siswa.

    "Iya, siswa masih belajar di tenda karena meskipun sudah satu tahun, tetapi gedung sekolah yang rusak belum diperbaiki. Katanya baru tahun depan diperbaikinya," ungkap Neuis, seorang guru di SDN Citamiang.

    Aktivitas belajar di tenda bukan tanpa tantangan. Meskipun proses belajar tetap berjalan, siswa kegerahan di tengah terik matahari menjelang siang hari. "Harusnya kan bubar kelas itu jam 12 siang. Tapi karena cuaca, jam 11 sudah dipulangkan. Kasihan siswa kegerahan, kegiatan belajarnya juga jadi tidak maksimal," kata Neuis.

    Terkait kondisi cuaca, Yuliana Asaad, ibunda Rinoa Aurora Senduk yang juga guru di SDN Citamiang, mengungkapkan keprihatinannya. "Jadi selain panas juga ancaman lainnya ialah angin kencang. Kemarin sempat angin kencang membuat tenda terbang dan menimpa salah seorang siswa. Makanya kalau cuaca kurang bagus, siswa dipulangkan lebih awal dan ketika hujan dari pagi maka belajarnya secara daring," tuturnya.

    Riska Nuril Hasmi, siswi Kelas 6, juga menyuarakan ketidaknyamanan belajar di tenda. "Panas kalau siang. Dan, kalau hujan jadi kebasahan. Saya berharap bisa belajar lagi di kelas," ungkapnya.

    Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cianjur menjelaskan bahwa gempa bumi pada tahun 2022 merusak 623 bangunan Paud, SD, dan SMP. "623 sekolah itu terdiri dari yang rusak berat, sedang, dan ringan. Yang berat total ada 192 sekolah," ujarnya.

    Sebagian besar sekolah yang mengalami rusak berat sudah diperbaiki, namun masih ada yang belum mendapat perhatian. "Kalau yang rusak berat sebagian besar sudah selesai dibangun kembali. Tapi ada beberapa yang belum. Kalau yang rusak sedang dan ringan diperbaiki sekalian dengan sekolah rusak berat yang belum ditangani, dianggarkannya di 2024," tambahnya.

    Selain siswa, sekitar 1.700 penyintas gempa di Cianjur juga masih tinggal di tenda pengungsian. Bantuan perbaikan rumah dan relokasi masih dalam proses, membuat mereka harus bertahan dalam kondisi yang kurang ideal. Dalam upaya pemantauan, kesehatan para penyintas yang tinggal di tenda terus dicek secara berkala oleh pihak berwenang.

    Kami berharap pembangunan sekolah dan bantuan kepada para penyintas dapat segera terealisasi untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan aman bagi siswa serta masyarakat terdampak.

LihatTutupKomentar